https://www.shutterstock.com/image-photo/close-hand-giving-coin-another-isolated-1091590805?irgwc=1&utm_medium=Affiliate&utm_campaign=Hans+Braxmeier+und+Simon+Steinberger+GbR&utm_source=44814&utm_term=https%3A%2F%2Fpixabay.com%2Fid%2Fimages%2Fsearch%2Fsedekah%2F
Semburat di langit senja mulai terlihat.
Jalanan mulai dipenuhi para Mahasiswa untuk berbelanja atau sekedar
menghabiskan waktu di jalanan. Begitulah setiap harinya. Jalanan akan dipenuh
sesaki oleh Mahasiswa yang ingin menikmati keindahannya di jalan, ataupun
warung sedukaannya. Waktunya pedagang bersua ria. Rezeki mereka sedang
menghampiri, dan pundi-pundi kantong untuk diisi sudah siap, yang nantinya akan
digunakan sebagai keperluan banyak hal.
Tak berbeda dengan yang lain, aku adalah
bagian dari penikmat jalanan di kala senja. Terkadang sengaja saja
berlalu-lalang, memenuhi jalanan, terkadang ya memang menjadi pilihan untuk menghabiskan
sisa waktu di kota ini. Kali ini, kami menghabiskan senja di sebuah toko. Letaknya
di pinggir jalan, bentuknya indah, dan arsitek bangunannya menggoda. Banyak tulisan
motivasi di sana.
Sembari menunggu pesanan, kami berjalan
di pinggiran jalan. Menikmati seutas nikmat yang tak ada habis-habisnya itu. Menyaksikan
bagaimana pembeli bercengkerama dengan pedagang, pun pengendara beroda dua,
tiga, yang tak ada henti-hentinya.
Dari kejauhan, mataku menatap
pemandangan. Ada seorang ibu pedagang es cendol yang memberikan sebungkus es
kepada pedagang kue yang (maaf) buta. Ternyata, melihat pemandangan tersebut
saja membuatku bahagia, apalagi bisa berbuat baik sebagaimana ibu tersebut.
Kondisi keuangan sedang tak baik-baik
saja, dan itu sudah kuberitakan kepada temanku. Namun, teringatlah sebuah
pepatah bijak, bahwa tak pernah ada anjuran untuk menunda berbuat baik.
Kami terus berjalan, hingga berpapasan
dengan bapak tadi. Ya Allah, dalam hati betapa syukur itu kuhaturkan, dan
terkadang adapula pertanyaan menghampiri.
“Buta mata bukan masalah Du, buta
hatilah yang menjadi masalah”, pesan hatiku pada dirinya.
Aku pinta kedua temanku berhenti,
“Berhenti bentar. Aku mau beli jajan
bapaknya sekalian sedekah”, kataku. Memang terkadang perbuatan baik kita perlu
dipublish. Bukan untuk berpamer ria, tetapi untuk menarik simpati agar ada yang
mengikuti jejak perbuatan baik tersebut.
“Katanyo ndak ado duit”, kata lelaki
satu-satunya dengan sewot dan nada khas Jammbinya.
“Jangan bersedekah ketika punya duit. Tetapi
bersedkahlah agar punya duit”, kataku dengan nada yang tak kalah sewotnya. Dia memilih
bungkam. Aku membeli sebungkus macaroni rasa original, kuberikan uang lebih
dari harga barang yang kuambil.
Ternyata, bahagia bukan main ketika
memberi dalam keadaan sulit. masyaAllah.
