Tentang makna di balik kata
Pecinta setiap sajak yang lahir dengan keikhlasan. Seburuk apapun, ia adalah sebuah karya.
Jumat, 06 Maret 2020
Perjalanan
Sepoi-sepoi mulai menyibakkan kerudung merah jambu milik si mungil
Tatapannya tajam, menerawang jauh pada kedalaman asa yang tak terkira
Membiarkan angin membisikkan rindu tersyahdu yang dimilikinya
Sembari menatap asa yang tak pernah mampu digapai dengan kata
Mulutnya berkomat-kamit mengumandangkan mimpi kecil yang dipelihara sejak mimpinya tertinggal jauh dari kehidupan
Tuhan seperti menarik ulur hatinya yang rapuh
Menjatuhkan, lalu membuainya dengan lembut
Ah, mimpinya kembali menyegar
Membuat asa seperti demikian dekat
Lewat bapak yang berjalan lamban di depannya sambil terus memungut sampah di jalan
Hatinya seperti terketuk, betapa kecilnya ia memandang kehidupan.
Merawat Kenangan
Selasa, 18 Juni 2019
Jangan Menunggu Kaya
Rabu, 12 Juni 2019
Bumi Manusia (Review Buku)
sumber gambar: https://www.google.com/search?q=pramoedya&safe=strict&client=firefox-b-d&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi2rf_g1uPiAhVTVXwKHTZqCKAQ_AUIECgB&biw=1366&bih=654
Terimakasih yang Bisu
Selasa, 11 Juni 2019
Menjelang Berbuka
Minggu, 27 Mei 2018
Antara Cinta dan Rindu
Segalanya akan menjadi abu-abu, lalu kemudian mneggelap menjadi hitam yang pekat
Kelemahan diri tak mampu menerawang sekeliling
Berjalan lemah bersama keheningan
Mencari satu nama, dan satu sosok yang hilang
Esok,
Saat itu akan datang,
beberapa jengkal menuju keheningan dan kekejaman liburan
Kita berada di tempat yang jauh,
Terpisah bermil-mil tak berangka
Menapamu dengan mencuri-curi itu tidak lagi bisa kulakukan
Melihat senyum sederhanamu tak mampu lagi disaksikan
Entahlah, bagaimana menggambarkan rindu itu esok
Akankah ia meirtih sedih, lalu terdiam
Atau malah memilih untuk terus tegar setegar karang, dan terus tersenyum,
Seperti katamu, bahwa senyumku adalah obat dari penatmu
Berapa bulan yang lalu kau katakan?
Akh, aku mengingatnya, meski aku tahu, engkau melupakannya
Ia kan?
Sudahlah,
Mari menjalani sisa waktu yang tak panjang itu bersama,
Meski bersama tak harus bersua. Ia kan?
Mari bersua di keheningan doa,
Menatap dan merintih kepada Sang Maha segalanya
Jaga hatimu, karena ada aku yang menunggumu dengan segenap hatiku di sini.
Pulanglah, lalu kembalilah.
Aku merindukanmu, dan menunggumu.
Rindu,
28 Mei 2018
08.25
Senin, 16 Januari 2017
Ayah bukan orang jahatkan ??
Siang INI, aku berjalan jalan bersama ayah, mengelilingi luasnya jalanan di perkotaan. Kegiatan INI, adalah kegiatan yang hampir setiap hari kulakukan bersama ayah, Dan tepatnya, hari ITU ketika aku berkeliling bersamanya, tepat saat di depan sebuah mall besar, kukatakan pada ayah .
" ayah, aku mau tas doraemaon ITU, seperrtinya, cantik sekali. "
" ia sayang, akan ayah belikan untukmu "
Ayah mengajakku, memasuki mall tsb, Dan ternyata, ketika ayah ingin mengambil nya, tas tsb sudah terlebih dahulu, di ambil oleh seorang polisi,
" he I, ini milik putri Ku , mau APA kau orang miskin " hardiknya, sambil mendorong ayahku..
" ITU milk anakku, " sambil menarik tas tsb, polisi ITU lantas mendorong Dan memukul ayahku, hingga ayan terjatuhhh..
" ayah, sudahlah.. Jika memang belum mampu, tidak APA APA, aku baik baik saja kok, Tampa taas ITU "
Ayahku hanya tersenyum, sembari mengucapkan kata Maaf, terus menerus..., kepadaku, semua orang memandang kami layaknya orang gila ditengah jalan,
Langit, siag ITU cukup cerah, namun tidak dengan ayahku , apalagi setelah kejadian tadi, dia merasa bahwa dirinya adalah ayah yang tidak ada artinya..,
Aku kubujuk ayahku, Dan Ku ktakan
" ayah, tak usah terlalu memaksakan diri, jika kita tidak mampu, harga tas ITU sang at mahal, tidak APA APA ayah "
Ayahku lantas memelukku,
"Maaf kan ayah nak, ayah janji akan membelikannya untukmu , suatu hari nanti "
Hingga suatu hari, ayahku pamit.. Dia berkata, bahwa dia akan membelikanku gas yang kuinginkan, dengan tidak mengizinkan aku ikut dengannya, seperti Biasa
" ayah pergi dulu ya sayang, jangan kemana mana, tunggu ayah pulang "
. aku kecewa, tapi ya sudahlah..
Semenjak ayah pergi..... Dia tak kembali, padahal hari ITU, sudah mulai turun salju, Ku tunggu ayahku, berjam jam, hingha mataharipun terbenam, malam sudah mulai datang, ayahku tak juga kembali, cemas Dan takut menjadi satu.. Ku ambil sebuah foto yang tergantung didinding kamar, kupandangi waajahnya yang Lucu namun tetap bersahaja dimataku..,
Aku tak sanggup, tak biasanya dia pulang hingga malam, aku akan menunggu ayah, hingga dua hari, jika dua hari belum juga kembali, maka, maafkan aku ayah, aku harus pergi,. .
Sudah dua hari, ayah tak juga kembali.., maka kuputuskan untuk pergi, kepanti Asuhan terdekat. Seperti yang Biasa dilakukan masyarakat setempat jika tidak memiliki keluarga..
Mending, menghiasi langit siang ITU, Dan perlahan lahan, hujan mulai Turin rintik rintikkk... Ku telusri jalanan dengan pahit, berharap ada kejaiban datang menghampiriku..
Tak jauh dari temptku berdiri, kusaksikan banyak segerombolan manusia Dan juga Mobil polisi, aku penasaran, kulihat disekelilingku, Dan kucari cari sosok yang kurindukan diantara kerumunam ITU, Dan tak sengaja, kulihat ayahku, sedang di bawa secara paksa okeh polisi, tangannya di sell, aku mejerrit, berharap tubuhku yang mungil, Dan suaraku yang amat kecil INI terdengar olehnya...
" ayaaaaaah, ayaaaaaah , ayaaaaaaaaa " panggilku, smbil melambaikam tangan" ayaaaaah, ayahhhh, ayaaaah '' masih belum ada sahutannnn.,
" ayahh, " .. Suara Ku melemah, Dan seketika ITU ayah melihatku, dia mencba untuk berjlan kearahku, namun polisi tak mmgizinkannya.. " tolonglah, satu menit saja, aku ingin bertemu putri Ku " mohonnya sambil menangsssss.
Kuhampiri ayahku, yang kondisinya melemah saat ITU.. Ku cerca dia dengan berbagai macam pertanyaan, seperti yang biasanya selalu kulakukan padanya, hingga akhirnya aku bertanya
" ayaaaaah, ayah kenapa ? Kenapa polisi polisi INI membawa ayah ? Ayah, ayah bukan orang jahat kan ??"
Ayahku menangis, memelukku... Tampa jawaban...
.....
......
# bersambung
Minggu, 15 Januari 2017
Mana yang akan kau pilih ?
Kisah panjang ITU, belum usai kawan..
Beribu lembaran putih, sudah mulai banyak tergores, dengan tinta tinta kelam , dengan berbagai warna warni kehidupan yang mencekam Dan menyayat .
Dan akan terus tergores, sampai akhir kehidupan, sampai jiwa INI tak berarti, sampai road berhenti, dengan berbagai lembaran lembaran baru yang harus siap menerima berbagai macam goresan serta beraneka ragam warna.
Tiap detik, adalah perjalanan
Dan tiap detik ITU pula, aku seakan tak pernah sadar, satu persatu goresan mengenai lembaran lembaran milik ku.
Tetes demi tetes tinta kelam menoreh me lembaranku dengan sendirinya, ntah aku sadar, ntah tidak,
Setiap jalan, Dan setiap lembar lembar ITU, pasti selalu memiliki tempat di hatiku, walau terkadang saat ia tergores aku tak menyadarinya.
Berkas berkas kelam, yang akan senantiasa terukir jelas, di lubuk hati.
Dan kini, ia seakan akan mengiang ngiang, diambang pintu hatiii
Memanggil Dan memintaku Untuk memilih..
Hati mana ? Mana ?
Langkah mana ?
Kembali meneruskan goresan Hiram, atau membukanya dengan lembaran yang baru.. ?? Dengan tetap melindungi nya Dari goresan goresan kelam yang tak berarti.






