Jumat, 06 Maret 2020

Perjalanan

Siulan pipit memecah lamuannya
Sepoi-sepoi mulai menyibakkan kerudung merah jambu milik si mungil

Tatapannya tajam, menerawang jauh pada kedalaman asa yang tak terkira

Membiarkan angin membisikkan rindu tersyahdu yang dimilikinya
Sembari menatap asa yang tak pernah mampu digapai dengan kata

Mulutnya berkomat-kamit mengumandangkan mimpi kecil yang dipelihara sejak mimpinya tertinggal jauh dari kehidupan

Tuhan seperti menarik ulur hatinya yang rapuh
Menjatuhkan, lalu membuainya dengan lembut

Ah, mimpinya kembali menyegar
Membuat asa seperti demikian dekat
Lewat bapak yang berjalan lamban di depannya sambil terus memungut sampah di jalan
Hatinya seperti terketuk, betapa kecilnya ia memandang kehidupan.



Merawat Kenangan





Ingatan manusia tak sempurna, layaknya menggenggam duri-duri tajam. Tak bertahan lama menggenggamnya, lalu terjatuh, terluka, dan berdarah. 


Begitulah ingatan. Tak bisa digenggam lama jika tak dirawat, dipupuk, dan dipelihara. Ia harus senantiasa diberi amunsisi bernama "sering" yang ditulis. Sebab lupa adalah anugerah Tuhan, agar manusia setidaknya meng-abadikan momen sederhananya menjadi sesuatu yang bernilai, indah, menarik dalam balutan tulisan yang bisa dinikmati oranglain. 


Bukankah mengetahui sesuatu tak meski kita pernah mengalaminya? Misalnya tentang ibukota. Iya kan? Untuk tahu ada Monas di sana, tak meski kita ke sana. 


Maka, jadilah orang yang mampu memberitahu tanpa harus menggurui. Bijak dalam menulis, cerdas dalam membaca, lugas dalam menyampaikan, dan luwes menggoreskan. 
Salam literasi! 


Jadilah pembaca yang handal. Sebab membaca tanpa menulis sedikit sia-sia, dan menulis tanpa membaca sedikit kesalahan.