Siulan pipit memecah lamuannya
Sepoi-sepoi mulai menyibakkan kerudung merah jambu milik si mungil
Tatapannya tajam, menerawang jauh pada kedalaman asa yang tak terkira
Membiarkan angin membisikkan rindu tersyahdu yang dimilikinya
Sembari menatap asa yang tak pernah mampu digapai dengan kata
Mulutnya berkomat-kamit mengumandangkan mimpi kecil yang dipelihara sejak mimpinya tertinggal jauh dari kehidupan
Tuhan seperti menarik ulur hatinya yang rapuh
Menjatuhkan, lalu membuainya dengan lembut
Ah, mimpinya kembali menyegar
Membuat asa seperti demikian dekat
Lewat bapak yang berjalan lamban di depannya sambil terus memungut sampah di jalan
Hatinya seperti terketuk, betapa kecilnya ia memandang kehidupan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar