Selasa, 18 Juni 2019

Jangan Menunggu Kaya



 https://www.shutterstock.com/image-photo/close-hand-giving-coin-another-isolated-1091590805?irgwc=1&utm_medium=Affiliate&utm_campaign=Hans+Braxmeier+und+Simon+Steinberger+GbR&utm_source=44814&utm_term=https%3A%2F%2Fpixabay.com%2Fid%2Fimages%2Fsearch%2Fsedekah%2F


Semburat di langit senja mulai terlihat. Jalanan mulai dipenuhi para Mahasiswa untuk berbelanja atau sekedar menghabiskan waktu di jalanan. Begitulah setiap harinya. Jalanan akan dipenuh sesaki oleh Mahasiswa yang ingin menikmati keindahannya di jalan, ataupun warung sedukaannya. Waktunya pedagang bersua ria. Rezeki mereka sedang menghampiri, dan pundi-pundi kantong untuk diisi sudah siap, yang nantinya akan digunakan sebagai keperluan banyak hal.
Tak berbeda dengan yang lain, aku adalah bagian dari penikmat jalanan di kala senja. Terkadang sengaja saja berlalu-lalang, memenuhi jalanan, terkadang ya memang menjadi pilihan untuk menghabiskan sisa waktu di kota ini. Kali ini, kami menghabiskan senja di sebuah toko. Letaknya di pinggir jalan, bentuknya indah, dan arsitek bangunannya menggoda. Banyak tulisan motivasi di sana.
Sembari menunggu pesanan, kami berjalan di pinggiran jalan. Menikmati seutas nikmat yang tak ada habis-habisnya itu. Menyaksikan bagaimana pembeli bercengkerama dengan pedagang, pun pengendara beroda dua, tiga, yang tak ada henti-hentinya.
Dari kejauhan, mataku menatap pemandangan. Ada seorang ibu pedagang es cendol yang memberikan sebungkus es kepada pedagang kue yang (maaf) buta. Ternyata, melihat pemandangan tersebut saja membuatku bahagia, apalagi bisa berbuat baik sebagaimana ibu tersebut.
Kondisi keuangan sedang tak baik-baik saja, dan itu sudah kuberitakan kepada temanku. Namun, teringatlah sebuah pepatah bijak, bahwa tak pernah ada anjuran untuk menunda berbuat baik.
Kami terus berjalan, hingga berpapasan dengan bapak tadi. Ya Allah, dalam hati betapa syukur itu kuhaturkan, dan terkadang adapula pertanyaan menghampiri.
“Buta mata bukan masalah Du, buta hatilah yang menjadi masalah”, pesan hatiku pada dirinya.
Aku  pinta kedua temanku berhenti,
“Berhenti bentar. Aku mau beli jajan bapaknya sekalian sedekah”, kataku. Memang terkadang perbuatan baik kita perlu dipublish. Bukan untuk berpamer ria, tetapi untuk menarik simpati agar ada yang mengikuti jejak perbuatan baik tersebut.
“Katanyo ndak ado duit”, kata lelaki satu-satunya dengan sewot dan nada khas Jammbinya.
“Jangan bersedekah ketika punya duit. Tetapi bersedkahlah agar punya duit”, kataku dengan nada yang tak kalah sewotnya. Dia memilih bungkam. Aku membeli sebungkus macaroni rasa original, kuberikan uang lebih dari harga barang yang kuambil.
Ternyata, bahagia bukan main ketika memberi dalam keadaan sulit. masyaAllah.

Rabu, 12 Juni 2019

Bumi Manusia (Review Buku)


Awalnya, ingin mereview sebuah buku yang sampai saat ini kisahnya masih tertata rapi di ingatan. Rapi sekali. Hafal betul siapa penulis dan judul serta makna kisahnya. Sebuah novel dua jilid karya Taufiqurrahman dengan judul “Munajat Cinta”. Novel yang membuatku menjadi begitu suka membaca novel. Saat itu, hanya mengandalkan novel-novel dari perpustakaan sekolah waktu SMP. Cukuplah, membuatku jatuh cinta.

Tapi, entah mengapa, kali ini aku berbeda haluan, jadi hendak mereview sebuah buku yang belum kutuntaskan meski sudah berbulan-bulan kujadwalkan harus tuntas. Roman ke empat setelah “Haseki Sultan”. Ia adalah sebuah karya dari Bapak bangsa bagiku, dengan tangan dinginnya yang melahirkan lebih dari 50 karya, yang sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa. Dan karya yang akan saya review adalah buku tetralogi yang pertama. “Bumi Manusia”.

Mungkin bagi yang sudah membaca, akan tahu siapa orang hebat yang menulis kisah tersebut, maka bagi yang belum tahu, beliau adalah “Pramoedya Ananta Toer”. Kenal? Lain kali kenalan ya.
Yang paling berkesan adalah tentang seorang lelaki pribumi yang biasa dipanggil “Minke”. Lelaki yang digilai seorang wanita beribu pribumi yang dijual oleh ayah dan ibunya sendiri karena gila jabatan, dengan ayah yang tak pernah dianggapnya ada.
Minke, lelaki pribumi yang masih keturunan priyayi, membenci adat yang katanya mengagungkan orang lain, namun dengan cara menghinakan diri sendiri. Harus berlutut ketika berjalan menuju seseorang yang jabatannya lebih tinggi. Dengan adat yang tidak disukainya lewat ilmu pengetahuan yang didapatkannya menjadi seorang siswa H.B.S yang merupakan sebuah sekolah favorit untuk anak-anak tertentu, alias anak Eropa, jikapun ada yang pribumi, maka anak itu adalah Minke, anak seorang Bupati yang tidak disukainya.
Ia dididik dengan pendidikan ala Barat, sampai ayahnya sendiri kurang menyukainya, begitupun ibu dan kakaknya. Bedanya, ayah dan kakaknya terang-terangan dalam mengungkapkan ketidaksukaannya, sementara ibunya lewat cara-cara halus yang bisa mengembalikannya seolah seperti dahulu saat kecil.
Sampai ia pernah membantah,
“Dahulu Ibunda minta saya belajar yang baik. Sekarang, setelah saya lakukan yang ibunda minta, mengapa saya yang disalahkan”. Karena perilakunya yang tidak menyukai adat yang merendahkan derajat manusia tersebut.
Ia dincintai mati oleh wanita bernama Annelis. Begitupun Ibu wanita tersebut yang menjadi faktor pemicu adrenalinnya demikian deras. Siap untuk keluar dari rumah jika ia dipaksa untuk terus hidup dengan budaya yang menurutnya konyol.
Ia inign membebaskan pikirannya lewat pendidikan, hingga ia bisa menjadi manusia yang utuh yang bebas dalam berekspresi dan merdeka. Ia juga diharapkan oleh tiga orang Eropa terkemuka untuk menjadi tonggak perubahan bangsanya yang menjadi babu du negeri sendiri.
Ia bertanya dalam dirinya sendiri, “Benarkah Multatuli selain Dowes Dekker itu ada? dan dalam wujud bapak dengan dua anak gadisnya itu?”
Orang Eropa yang berharap besar padanya untuk merubah tatanan kehidupan yang merendahkan diri sendiri, sampai ia dikirimi surat oleh kedua wanita tersebut dengan inti, bahwa mereka ingin suatu hari, kelak tatkala mereka sudah kembali ke Eropa, Minke berhasil membuat manusia-manusia di negerinya merdeka, mengagungkan oranglain tanpa harus merendahkan dirinya sendiri.

Udah ya, segini aja. Penasaran? Baca deh. Kita akan bisa membuka pikiran-pikiran kita akan dunia sebelum saat ini. Mencari Multatuli yang lain selain Dowes Dekker mungkin.
Selamat berkativitas n jangan lupa bersyukur.

Jogja. Rindu. 13 April 2019.

Tulisan dua bulan lalu.
sumber gambar: https://www.google.com/search?q=pramoedya&safe=strict&client=firefox-b-d&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi2rf_g1uPiAhVTVXwKHTZqCKAQ_AUIECgB&biw=1366&bih=654


Terimakasih yang Bisu

"Berceritalah lewat penamu tentang hal-hal sederhana nak! Meski pepatah lain mengatakan, semakin bagus tulisanmu maka akan semakin sulit untuk dipahami. Bagi orang tua ini, apalah bagusnya dari tulisan yang susah dicerna walau bagus dikata? Bukankah tulisan itu jemari. Jemari yang merangkul pena untuk menggores. Iya kan? Itu artinya ia universal, membiarkan semua orang mampu mencerna dengan baik apa yang penulis tuangkan"

Aku tercengang memperhatikan lisan ayah yang terus berceloteh sembari menghirup sesekali kopinya yang masih hangat.

Memang sudah menjadi kebiasaan kami untuk duduk bersama, menghadirkan kepulan asap milik kepala yang menggumpal. Terkadang, aku tidak habis pikir pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Sederhana, namun sarat akan makna.

Ia yang selalu membuatku kuat menjalani hidup. Katanya sekali waktu, teruslah berjuang.

Ia masih terus memandang ke arah jalan yang sepi di ujung sana. Nyiur melambai menemani gesekan ranting pada pohon-pohon karet yang mulai menua. Usia kami menempati gubuk reyot ini sudah mencapai angka 22 tahun. Mungkin, itulah yang membuatnya merasa enggan untuk meninggalkan hutan dengan segala kenangannya.

Baginya, gubuk dan hutan ini adalah nyawa. Dari kereotan dindingnya ia mampu bertahan menghindari sengatan mentari, dan dari hutan ini, ia mampu memperjuangkan hak anaknya untuk berpendidikan melebihi apa yang ia dapatkan.

Aku masih belum bisa angkat suara. Bagiku, cukuplah menatapnya sebagaimana biasa. Sebab kata-kata yang keluar darinya adalah cambuk pada perjalananku ke depan.

Kala menatapnya yang sudah mulai menua, ingatanku kembali terpanggil oleh kenangan tempo dulu. Kisah cintanya dan ibunda, kisahku yang membuatnya menangis, hingga perdebatan kecil menjelang perantauanku. Semuanya jelas, sejelas mataku menangkap kerutan-kerutan di wajahnya yang dahulu tidak ada, sejelas tangannya yang semakin kasar begitu nyata, bahkan rambut putihpun mulai mendatanginya.

Dan yang paling menjadi favoritku adalah janjinya dahulu yang sudah ditunaikannya.
"Ayah janji, sesulit apapun keadaan kita nanti, jika kau benar-benar berniat untuk sekolah, akan ayah sekolahkan meski dengan menghutang", katanya tempo dulu.

Kini, sambil menatap wajahnya yang semakin tua, kukatakan terimakasih dalam bisu.
"Ayah, terimakasih telah menunaikan janjimu. Meski aku tau, ada banyak hal yang kau lakukan meski tanpa kau janjikan. Sehat selalu".

Jogja. 12 Juni 2019

https://pixabay.com/images/search/puasa/






Selasa, 11 Juni 2019

Menjelang Berbuka




Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/kid-boy-muslim-eat-eating-ramadan-635811/

“Akan selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha nak. Maka berusahalah!”, bisikan itu hadir. Memenuhi isi kepalaku yang mulai kosong. Memenuhi ruang hatiku yang mulai menghitam. Terpaan menjadikan diriku demikian payah. Ah, ayah, memang selalu punya cara menghibur dan menguatkanku yang nyaris terjatuh dan tak mampu bangkit. Sayang, ia jauh dari jangkauan mata, tangan, dan kaki, meski dekat jika dijangkau dengan hati dan doa. Bukankah itu jauh lebih indah? Yah, sebab perantauan selalu memberikan arti kerinduan. 

Langit sedang berduka. Menumpahkan rahmat Tuhan yang dipesankan kepadanya. Ah, kukira ini adalah rahmat Tuhan yang meskinya membuat mata menangis sebab  perih. Kau tahu mengapa? Sebab malam dimana puluhan juta kaki merindukan langkahnya menemui Tuhan dengan berbondong-bondong, di benua nun jauh di sana saudaranya sedang berjuang mempertahankan tanah dan haknya. Miris sekali. Sebab, malam dimana puluhan juta merindukan makanan mewah dan destinasi yang “wah” agar indah ketika diupload, di belahan dunia sana, saudaranya sedang berperang melawan penindasan, sebagai tanah yang sudah ditakdirkan miliknya, melawan kedzhaliman yang memang tidak akan pernah berhenti. Serangan-serangan itu membabi-buta, namun mereka tetap berjuang hingga titik penghabisannya. 

Ah, mereka memang asset terindah yang Allah titipkan bagi dunia ini. Dan kurasa, hujan kali ini, adalah bentuk umpatan langit terhadap zionis-zionis serakah itu, dan juga makian langit kepada mereka yang terus merebut hak yang bukan miliknya. Tidak punya harga diri. 

Kalimat dan sebab terngiangnya membuat mataku yang tak terlihat terbuka. Betapa bodohnya aku yang meski bersedih dan terjatuh untuk hal-hal memalukan. Kali ini, adalah sore di Ramadhan ke-duaku. Ah, menjadi perantauan memang demikian. Tak banyak momen special Ramadhan selain melihat dan memperhatikan kebaikan bagiku. Apalagi jika bukan itu? Bukankan sahur di hari pertama tak kudapatkan? Berbuka apalagi. Ditambah, Satu syawalpun, akan tetap sama. Tetap tidak kembali, dan berteman dengan kota istimewa yang memang istimewa dengan caranya. 

Rasanya, masih terlalu dini untuk mempersiapkan bekal berbuka. Yah, meski pada akhirnya, berbuka hanya dengan air putih dan kurma. Cukup rasanya memasukkan makanan yang tidak diperkukan tubuh selama lebih dari sepuluh bulan. Dzhalim sekali. 

“Akan selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha nak”, kata ayah lagi. Bergeming dan terus mengingatkan hati yang terjatuh dan tidak ingin terjatuh. Petrichor mulai terasa di hidungku yang sudah merasa asing. Kicauan  burung mulai terdengar, pertanda hujan telah usai. Jalanan mulai dipenuhi manusia. Berburu kelezatan dunia, dan bersukacita dengannya. Dari jarak yang tidak begitu jauh, mataku menangkap kerumunan manusia yang berdebat. Apapula yang harus didebatkan pada waktu yang suci ini. 

Wanita yang sedang marah-marah kepada seorang laki-laki berpeci itu merah padam wajahnya. Tangannya bergerak sedikit mengarah lelaki itu. Ada sisi yang terbuka, hingga aku dapat menangkapnya, meski sekedar visual. Audionya akan kukejar. Langkahku tiba-tiba mengejar kerumunan, penasaran atas sengketa yang terjadi. 

Kuperhatikan, bapak yang sedang berperang dengan ibu tersebut membawa sebuah wadah berisi uang. Sepertinya, ia mohon maaf, mengemis. Jika dilihat dari wajah dan tubuhnya, ia sehat, tidak tahu denga hatinya. Orang-orang yang menyaksikan, lebih memilih menjadi penonton ketimbang penonton, padahal mereka bias saja mengambil peran menjadi pahlawan. Tiba-tiba menengahi dan mendamaikan misalnya. Dan, akulah yang akan menjadi pahlawan di Ramadhan kedua itu. 

Dengan hati yang memang taksepenuhnya berani, jantungku berdegup kencang. Akan kuperkiran apa yang terjadi. Mungkin, akibat paling besarnya adalah, aku akan menerima makian dan cemoohan. Tak mengapa, bukankah ini adalah sebuah bentuk usaha pendamaian? 

“Mohon maaf ibu, bapak, janganlah membuat kegaduhan di bulan yang suci ini. Apalagi membuat kegaduhan di waktu yang berkah ini, malulah pada orang-orang yang merasa ingin tahu dan terus berdatangan. Apa yang terjadi”, 

Semuanya diam. Hanya aroma petrichor yang masih memenuhi sesak hidungku. Ibu itu masih terus menatap tajam kepada bapak yang berada di depannya. Entah apa yang ada di pikirannya. Masih belum ada yang angkat bicara. Semuanya memillih diam. Membiarkan kucing-kucing berjalan melintasi kerumunan, membiarkan hati mereka yang bergejolak tanpa berusaha menghentikannya. Ah, konyol sekali aku. Aku jadi ikut permasalahan yang tidak ada seorangpun hendak membagi tahukan kepadaku. Jahat sekali keadaan ini. 

Hatiku memaksa mulutku bertanya. Dan kulakukan demi sebuah kata “damai”.
‘’mohon maaf sekali lagi, pak, bu. Sebenarnya ini ada masalah apa nggih ? tidak patut rasanya seorang muslim dengan muslim lainnya gaduh seperti ini ‘’, kataku masih dengan ragu-ragu. Untuk kedua kalinya, aku melakukan kesalahan. Bukankah dalam sabda sudah dijelaskan bahwa kita dianjurkan meninggalkan hal  yang meragukan ? baiklah. Usai soal ini, aku akan berlalu, dan meninggalkan perdamian yang tidak terjadi karena kebodohanku. 

Dua detik, ibu tersebut angkat bicara. Dengan nada yang masih terdengar kesal, ia berkata,
‘’Sejak kapan seorang muslim dianjurkan untuk meminta-minta? Sejak kapan? Dik, bapak ini memaksa saya memberikannya sedekah. Saya menolak. Dia memaksa lagi. Padahal saya melihat, keadaannya tidak akan meluluskannya menjadi seorang peminta-minta. Betapa malunya saya melihat dia bertindak demikian. Fisiknya yang sehat dan gagah, harus menjadi pengemis. Jika saja yang datang adalah seseorang yang sudah renta, tak memiliki tangan, dan keadan lainnya. Tentu tanpa diminta akan saya berikan’’, katanya bagaikan kereta api. Cepat sekali. Bapak tersebut tertunduk. Tak ada kata apapun yang dikeluarkannya. 

‘’Ah, manusia. Mengapa memilih menghinakan diri sendiri di hadapan manusia?’’ tanya hatiku mendengar penjelasan tersebut. Satu kata, memalukan.
Kali ini, keraguan untuk berkata-kata itu hilang. Aku harus berkata-kata, dan berdakwah menjelang senja datang.
“Mohon maaf pak. Apa yang dikatakan oleh ibu ini benar. Rasulullah menyebutkan, bahwa tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah. Bapak sehat, banyak pekerjaan yang bisa bapak lakukan ketimbang meminta-minta.” Sehalus mungkin. Matanya menatapku dengan tajam. Lalu ia berlalu, meninggalkan keramaian yang ditimbulkannya.