Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/kid-boy-muslim-eat-eating-ramadan-635811/
“Akan selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha nak. Maka
berusahalah!”, bisikan itu hadir. Memenuhi isi kepalaku yang mulai kosong.
Memenuhi ruang hatiku yang mulai menghitam. Terpaan menjadikan diriku demikian
payah. Ah, ayah, memang selalu punya cara menghibur dan menguatkanku yang
nyaris terjatuh dan tak mampu bangkit. Sayang, ia jauh dari jangkauan mata,
tangan, dan kaki, meski dekat jika dijangkau dengan hati dan doa. Bukankah itu
jauh lebih indah? Yah, sebab perantauan selalu memberikan arti kerinduan.
Langit sedang berduka. Menumpahkan rahmat Tuhan yang dipesankan kepadanya. Ah, kukira ini
adalah rahmat Tuhan yang meskinya membuat mata menangis sebab perih. Kau tahu mengapa? Sebab malam dimana
puluhan juta kaki merindukan langkahnya menemui Tuhan dengan
berbondong-bondong, di benua nun jauh di sana saudaranya sedang berjuang
mempertahankan tanah dan haknya. Miris sekali. Sebab, malam dimana puluhan juta
merindukan makanan mewah dan destinasi yang “wah” agar indah ketika diupload,
di belahan dunia sana, saudaranya sedang berperang melawan penindasan, sebagai
tanah yang sudah ditakdirkan miliknya, melawan kedzhaliman yang memang tidak
akan pernah berhenti. Serangan-serangan itu membabi-buta, namun mereka tetap
berjuang hingga titik penghabisannya.
Ah, mereka memang asset terindah yang Allah titipkan bagi dunia
ini. Dan kurasa, hujan kali ini, adalah bentuk umpatan langit terhadap
zionis-zionis serakah itu, dan juga makian langit kepada mereka yang terus
merebut hak yang bukan miliknya. Tidak punya harga diri.
Kalimat dan sebab terngiangnya membuat mataku yang tak terlihat
terbuka. Betapa bodohnya aku yang meski bersedih dan terjatuh untuk hal-hal
memalukan. Kali ini, adalah sore di Ramadhan ke-duaku. Ah, menjadi perantauan
memang demikian. Tak banyak momen special Ramadhan selain melihat dan
memperhatikan kebaikan bagiku. Apalagi jika bukan itu? Bukankan sahur di hari
pertama tak kudapatkan? Berbuka apalagi. Ditambah, Satu syawalpun, akan tetap
sama. Tetap tidak kembali, dan berteman dengan kota istimewa yang memang
istimewa dengan caranya.
Rasanya, masih terlalu dini untuk mempersiapkan bekal berbuka. Yah,
meski pada akhirnya, berbuka hanya dengan air putih dan kurma. Cukup rasanya
memasukkan makanan yang tidak diperkukan tubuh selama lebih dari sepuluh bulan.
Dzhalim sekali.
“Akan selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha nak”, kata ayah
lagi. Bergeming dan terus mengingatkan hati yang terjatuh dan tidak ingin
terjatuh. Petrichor mulai terasa di hidungku yang sudah merasa asing. Kicauan burung mulai terdengar, pertanda hujan telah
usai. Jalanan mulai dipenuhi manusia. Berburu kelezatan dunia, dan bersukacita
dengannya. Dari jarak yang tidak begitu jauh, mataku menangkap kerumunan
manusia yang berdebat. Apapula yang harus didebatkan pada waktu yang suci ini.
Wanita yang sedang marah-marah kepada seorang laki-laki berpeci itu
merah padam wajahnya. Tangannya bergerak sedikit mengarah lelaki itu. Ada sisi
yang terbuka, hingga aku dapat menangkapnya, meski sekedar visual. Audionya
akan kukejar. Langkahku tiba-tiba mengejar kerumunan, penasaran atas sengketa
yang terjadi.
Kuperhatikan, bapak yang sedang berperang dengan ibu tersebut
membawa sebuah wadah berisi uang. Sepertinya, ia mohon maaf, mengemis. Jika
dilihat dari wajah dan tubuhnya, ia sehat, tidak tahu denga hatinya.
Orang-orang yang menyaksikan, lebih memilih menjadi penonton ketimbang
penonton, padahal mereka bias saja mengambil peran menjadi pahlawan. Tiba-tiba
menengahi dan mendamaikan misalnya. Dan, akulah yang akan menjadi pahlawan di
Ramadhan kedua itu.
Dengan hati yang memang taksepenuhnya berani, jantungku berdegup
kencang. Akan kuperkiran apa yang terjadi. Mungkin, akibat paling besarnya
adalah, aku akan menerima makian dan cemoohan. Tak mengapa, bukankah ini adalah
sebuah bentuk usaha pendamaian?
“Mohon maaf ibu, bapak, janganlah membuat kegaduhan di bulan yang
suci ini. Apalagi membuat kegaduhan di waktu yang berkah ini, malulah pada
orang-orang yang merasa ingin tahu dan terus berdatangan. Apa yang terjadi”,
Semuanya diam. Hanya aroma petrichor yang masih memenuhi sesak
hidungku. Ibu itu masih terus menatap tajam kepada bapak yang berada di
depannya. Entah apa yang ada di pikirannya. Masih belum ada yang angkat bicara.
Semuanya memillih diam. Membiarkan kucing-kucing berjalan melintasi kerumunan,
membiarkan hati mereka yang bergejolak tanpa berusaha menghentikannya. Ah,
konyol sekali aku. Aku jadi ikut permasalahan yang tidak ada seorangpun hendak
membagi tahukan kepadaku. Jahat sekali keadaan ini.
Hatiku memaksa mulutku bertanya. Dan kulakukan demi sebuah kata “damai”.
‘’mohon maaf sekali lagi, pak, bu. Sebenarnya
ini ada masalah apa nggih ? tidak patut rasanya seorang muslim dengan
muslim lainnya gaduh seperti ini ‘’, kataku masih dengan ragu-ragu. Untuk
kedua kalinya, aku melakukan kesalahan. Bukankah
dalam sabda sudah dijelaskan bahwa kita dianjurkan meninggalkan hal yang meragukan ? baiklah. Usai soal ini,
aku akan berlalu, dan meninggalkan perdamian yang tidak terjadi karena
kebodohanku.
Dua detik, ibu tersebut angkat bicara. Dengan nada yang masih
terdengar kesal, ia berkata,
‘’Sejak kapan seorang muslim dianjurkan untuk meminta-minta? Sejak
kapan? Dik, bapak ini memaksa saya memberikannya sedekah. Saya menolak. Dia
memaksa lagi. Padahal saya melihat, keadaannya tidak akan meluluskannya menjadi
seorang peminta-minta. Betapa malunya saya melihat dia bertindak demikian.
Fisiknya yang sehat dan gagah, harus menjadi pengemis. Jika saja yang datang
adalah seseorang yang sudah renta, tak memiliki tangan, dan keadan lainnya.
Tentu tanpa diminta akan saya berikan’’, katanya bagaikan kereta api. Cepat
sekali. Bapak tersebut tertunduk. Tak ada kata apapun yang dikeluarkannya.
‘’Ah, manusia. Mengapa memilih menghinakan diri sendiri di hadapan
manusia?’’ tanya hatiku mendengar penjelasan tersebut. Satu kata, memalukan.
Kali ini, keraguan untuk berkata-kata itu hilang. Aku harus
berkata-kata, dan berdakwah menjelang senja datang.
“Mohon maaf pak. Apa yang dikatakan oleh ibu ini benar. Rasulullah
menyebutkan, bahwa tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah. Bapak
sehat, banyak pekerjaan yang bisa bapak lakukan ketimbang meminta-minta.”
Sehalus mungkin. Matanya menatapku dengan tajam. Lalu ia berlalu, meninggalkan
keramaian yang ditimbulkannya.