Awalnya, ingin mereview sebuah buku yang sampai saat ini kisahnya
masih tertata rapi di ingatan. Rapi sekali. Hafal betul siapa penulis
dan judul serta makna kisahnya. Sebuah novel dua jilid karya
Taufiqurrahman dengan judul “Munajat Cinta”. Novel yang membuatku
menjadi begitu suka membaca novel. Saat itu, hanya mengandalkan
novel-novel dari perpustakaan sekolah waktu SMP. Cukuplah, membuatku
jatuh cinta.
Tapi, entah mengapa, kali ini aku berbeda haluan, jadi hendak
mereview sebuah buku yang belum kutuntaskan meski sudah berbulan-bulan
kujadwalkan harus tuntas. Roman ke empat setelah “Haseki Sultan”. Ia
adalah sebuah karya dari Bapak bangsa bagiku, dengan tangan dinginnya
yang melahirkan lebih dari 50 karya, yang sudah diterjemahkan ke dalam
42 bahasa. Dan karya yang akan saya review adalah buku tetralogi yang
pertama. “Bumi Manusia”.
Mungkin bagi yang sudah membaca, akan tahu siapa orang hebat yang
menulis kisah tersebut, maka bagi yang belum tahu, beliau adalah
“Pramoedya Ananta Toer”. Kenal? Lain kali kenalan ya.
Yang paling berkesan adalah tentang seorang lelaki pribumi yang biasa
dipanggil “Minke”. Lelaki yang digilai seorang wanita beribu pribumi
yang dijual oleh ayah dan ibunya sendiri karena gila jabatan, dengan
ayah yang tak pernah dianggapnya ada.
Minke, lelaki pribumi yang masih keturunan priyayi, membenci adat
yang katanya mengagungkan orang lain, namun dengan cara menghinakan diri
sendiri. Harus berlutut ketika berjalan menuju seseorang yang
jabatannya lebih tinggi. Dengan adat yang tidak disukainya lewat ilmu
pengetahuan yang didapatkannya menjadi seorang siswa H.B.S yang
merupakan sebuah sekolah favorit untuk anak-anak tertentu, alias anak
Eropa, jikapun ada yang pribumi, maka anak itu adalah Minke, anak
seorang Bupati yang tidak disukainya.
Ia dididik dengan pendidikan ala Barat, sampai ayahnya sendiri kurang
menyukainya, begitupun ibu dan kakaknya. Bedanya, ayah dan kakaknya
terang-terangan dalam mengungkapkan ketidaksukaannya, sementara ibunya
lewat cara-cara halus yang bisa mengembalikannya seolah seperti dahulu
saat kecil.
Sampai ia pernah membantah,
“Dahulu Ibunda minta saya belajar yang baik. Sekarang, setelah saya
lakukan yang ibunda minta, mengapa saya yang disalahkan”. Karena
perilakunya yang tidak menyukai adat yang merendahkan derajat manusia
tersebut.
Ia dincintai mati oleh wanita bernama Annelis. Begitupun Ibu wanita
tersebut yang menjadi faktor pemicu adrenalinnya demikian deras. Siap
untuk keluar dari rumah jika ia dipaksa untuk terus hidup dengan budaya
yang menurutnya konyol.
Ia inign membebaskan pikirannya lewat pendidikan, hingga ia bisa
menjadi manusia yang utuh yang bebas dalam berekspresi dan merdeka. Ia
juga diharapkan oleh tiga orang Eropa terkemuka untuk menjadi tonggak
perubahan bangsanya yang menjadi babu du negeri sendiri.
Ia bertanya dalam dirinya sendiri, “Benarkah Multatuli selain Dowes
Dekker itu ada? dan dalam wujud bapak dengan dua anak gadisnya itu?”
Orang Eropa yang berharap besar padanya untuk merubah tatanan
kehidupan yang merendahkan diri sendiri, sampai ia dikirimi surat oleh
kedua wanita tersebut dengan inti, bahwa mereka ingin suatu hari, kelak
tatkala mereka sudah kembali ke Eropa, Minke berhasil membuat
manusia-manusia di negerinya merdeka, mengagungkan oranglain tanpa harus
merendahkan dirinya sendiri.
Udah ya, segini aja. Penasaran? Baca deh. Kita akan bisa membuka
pikiran-pikiran kita akan dunia sebelum saat ini. Mencari Multatuli yang
lain selain Dowes Dekker mungkin.
Selamat berkativitas n jangan lupa bersyukur.
Jogja. Rindu. 13 April 2019.
Tulisan dua bulan lalu.
sumber gambar: https://www.google.com/search?q=pramoedya&safe=strict&client=firefox-b-d&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi2rf_g1uPiAhVTVXwKHTZqCKAQ_AUIECgB&biw=1366&bih=654
sumber gambar: https://www.google.com/search?q=pramoedya&safe=strict&client=firefox-b-d&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi2rf_g1uPiAhVTVXwKHTZqCKAQ_AUIECgB&biw=1366&bih=654

Tidak ada komentar:
Posting Komentar