Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juni 2019

Terimakasih yang Bisu

"Berceritalah lewat penamu tentang hal-hal sederhana nak! Meski pepatah lain mengatakan, semakin bagus tulisanmu maka akan semakin sulit untuk dipahami. Bagi orang tua ini, apalah bagusnya dari tulisan yang susah dicerna walau bagus dikata? Bukankah tulisan itu jemari. Jemari yang merangkul pena untuk menggores. Iya kan? Itu artinya ia universal, membiarkan semua orang mampu mencerna dengan baik apa yang penulis tuangkan"

Aku tercengang memperhatikan lisan ayah yang terus berceloteh sembari menghirup sesekali kopinya yang masih hangat.

Memang sudah menjadi kebiasaan kami untuk duduk bersama, menghadirkan kepulan asap milik kepala yang menggumpal. Terkadang, aku tidak habis pikir pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Sederhana, namun sarat akan makna.

Ia yang selalu membuatku kuat menjalani hidup. Katanya sekali waktu, teruslah berjuang.

Ia masih terus memandang ke arah jalan yang sepi di ujung sana. Nyiur melambai menemani gesekan ranting pada pohon-pohon karet yang mulai menua. Usia kami menempati gubuk reyot ini sudah mencapai angka 22 tahun. Mungkin, itulah yang membuatnya merasa enggan untuk meninggalkan hutan dengan segala kenangannya.

Baginya, gubuk dan hutan ini adalah nyawa. Dari kereotan dindingnya ia mampu bertahan menghindari sengatan mentari, dan dari hutan ini, ia mampu memperjuangkan hak anaknya untuk berpendidikan melebihi apa yang ia dapatkan.

Aku masih belum bisa angkat suara. Bagiku, cukuplah menatapnya sebagaimana biasa. Sebab kata-kata yang keluar darinya adalah cambuk pada perjalananku ke depan.

Kala menatapnya yang sudah mulai menua, ingatanku kembali terpanggil oleh kenangan tempo dulu. Kisah cintanya dan ibunda, kisahku yang membuatnya menangis, hingga perdebatan kecil menjelang perantauanku. Semuanya jelas, sejelas mataku menangkap kerutan-kerutan di wajahnya yang dahulu tidak ada, sejelas tangannya yang semakin kasar begitu nyata, bahkan rambut putihpun mulai mendatanginya.

Dan yang paling menjadi favoritku adalah janjinya dahulu yang sudah ditunaikannya.
"Ayah janji, sesulit apapun keadaan kita nanti, jika kau benar-benar berniat untuk sekolah, akan ayah sekolahkan meski dengan menghutang", katanya tempo dulu.

Kini, sambil menatap wajahnya yang semakin tua, kukatakan terimakasih dalam bisu.
"Ayah, terimakasih telah menunaikan janjimu. Meski aku tau, ada banyak hal yang kau lakukan meski tanpa kau janjikan. Sehat selalu".

Jogja. 12 Juni 2019

https://pixabay.com/images/search/puasa/






Selasa, 11 Juni 2019

Menjelang Berbuka




Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/kid-boy-muslim-eat-eating-ramadan-635811/

“Akan selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha nak. Maka berusahalah!”, bisikan itu hadir. Memenuhi isi kepalaku yang mulai kosong. Memenuhi ruang hatiku yang mulai menghitam. Terpaan menjadikan diriku demikian payah. Ah, ayah, memang selalu punya cara menghibur dan menguatkanku yang nyaris terjatuh dan tak mampu bangkit. Sayang, ia jauh dari jangkauan mata, tangan, dan kaki, meski dekat jika dijangkau dengan hati dan doa. Bukankah itu jauh lebih indah? Yah, sebab perantauan selalu memberikan arti kerinduan. 

Langit sedang berduka. Menumpahkan rahmat Tuhan yang dipesankan kepadanya. Ah, kukira ini adalah rahmat Tuhan yang meskinya membuat mata menangis sebab  perih. Kau tahu mengapa? Sebab malam dimana puluhan juta kaki merindukan langkahnya menemui Tuhan dengan berbondong-bondong, di benua nun jauh di sana saudaranya sedang berjuang mempertahankan tanah dan haknya. Miris sekali. Sebab, malam dimana puluhan juta merindukan makanan mewah dan destinasi yang “wah” agar indah ketika diupload, di belahan dunia sana, saudaranya sedang berperang melawan penindasan, sebagai tanah yang sudah ditakdirkan miliknya, melawan kedzhaliman yang memang tidak akan pernah berhenti. Serangan-serangan itu membabi-buta, namun mereka tetap berjuang hingga titik penghabisannya. 

Ah, mereka memang asset terindah yang Allah titipkan bagi dunia ini. Dan kurasa, hujan kali ini, adalah bentuk umpatan langit terhadap zionis-zionis serakah itu, dan juga makian langit kepada mereka yang terus merebut hak yang bukan miliknya. Tidak punya harga diri. 

Kalimat dan sebab terngiangnya membuat mataku yang tak terlihat terbuka. Betapa bodohnya aku yang meski bersedih dan terjatuh untuk hal-hal memalukan. Kali ini, adalah sore di Ramadhan ke-duaku. Ah, menjadi perantauan memang demikian. Tak banyak momen special Ramadhan selain melihat dan memperhatikan kebaikan bagiku. Apalagi jika bukan itu? Bukankan sahur di hari pertama tak kudapatkan? Berbuka apalagi. Ditambah, Satu syawalpun, akan tetap sama. Tetap tidak kembali, dan berteman dengan kota istimewa yang memang istimewa dengan caranya. 

Rasanya, masih terlalu dini untuk mempersiapkan bekal berbuka. Yah, meski pada akhirnya, berbuka hanya dengan air putih dan kurma. Cukup rasanya memasukkan makanan yang tidak diperkukan tubuh selama lebih dari sepuluh bulan. Dzhalim sekali. 

“Akan selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha nak”, kata ayah lagi. Bergeming dan terus mengingatkan hati yang terjatuh dan tidak ingin terjatuh. Petrichor mulai terasa di hidungku yang sudah merasa asing. Kicauan  burung mulai terdengar, pertanda hujan telah usai. Jalanan mulai dipenuhi manusia. Berburu kelezatan dunia, dan bersukacita dengannya. Dari jarak yang tidak begitu jauh, mataku menangkap kerumunan manusia yang berdebat. Apapula yang harus didebatkan pada waktu yang suci ini. 

Wanita yang sedang marah-marah kepada seorang laki-laki berpeci itu merah padam wajahnya. Tangannya bergerak sedikit mengarah lelaki itu. Ada sisi yang terbuka, hingga aku dapat menangkapnya, meski sekedar visual. Audionya akan kukejar. Langkahku tiba-tiba mengejar kerumunan, penasaran atas sengketa yang terjadi. 

Kuperhatikan, bapak yang sedang berperang dengan ibu tersebut membawa sebuah wadah berisi uang. Sepertinya, ia mohon maaf, mengemis. Jika dilihat dari wajah dan tubuhnya, ia sehat, tidak tahu denga hatinya. Orang-orang yang menyaksikan, lebih memilih menjadi penonton ketimbang penonton, padahal mereka bias saja mengambil peran menjadi pahlawan. Tiba-tiba menengahi dan mendamaikan misalnya. Dan, akulah yang akan menjadi pahlawan di Ramadhan kedua itu. 

Dengan hati yang memang taksepenuhnya berani, jantungku berdegup kencang. Akan kuperkiran apa yang terjadi. Mungkin, akibat paling besarnya adalah, aku akan menerima makian dan cemoohan. Tak mengapa, bukankah ini adalah sebuah bentuk usaha pendamaian? 

“Mohon maaf ibu, bapak, janganlah membuat kegaduhan di bulan yang suci ini. Apalagi membuat kegaduhan di waktu yang berkah ini, malulah pada orang-orang yang merasa ingin tahu dan terus berdatangan. Apa yang terjadi”, 

Semuanya diam. Hanya aroma petrichor yang masih memenuhi sesak hidungku. Ibu itu masih terus menatap tajam kepada bapak yang berada di depannya. Entah apa yang ada di pikirannya. Masih belum ada yang angkat bicara. Semuanya memillih diam. Membiarkan kucing-kucing berjalan melintasi kerumunan, membiarkan hati mereka yang bergejolak tanpa berusaha menghentikannya. Ah, konyol sekali aku. Aku jadi ikut permasalahan yang tidak ada seorangpun hendak membagi tahukan kepadaku. Jahat sekali keadaan ini. 

Hatiku memaksa mulutku bertanya. Dan kulakukan demi sebuah kata “damai”.
‘’mohon maaf sekali lagi, pak, bu. Sebenarnya ini ada masalah apa nggih ? tidak patut rasanya seorang muslim dengan muslim lainnya gaduh seperti ini ‘’, kataku masih dengan ragu-ragu. Untuk kedua kalinya, aku melakukan kesalahan. Bukankah dalam sabda sudah dijelaskan bahwa kita dianjurkan meninggalkan hal  yang meragukan ? baiklah. Usai soal ini, aku akan berlalu, dan meninggalkan perdamian yang tidak terjadi karena kebodohanku. 

Dua detik, ibu tersebut angkat bicara. Dengan nada yang masih terdengar kesal, ia berkata,
‘’Sejak kapan seorang muslim dianjurkan untuk meminta-minta? Sejak kapan? Dik, bapak ini memaksa saya memberikannya sedekah. Saya menolak. Dia memaksa lagi. Padahal saya melihat, keadaannya tidak akan meluluskannya menjadi seorang peminta-minta. Betapa malunya saya melihat dia bertindak demikian. Fisiknya yang sehat dan gagah, harus menjadi pengemis. Jika saja yang datang adalah seseorang yang sudah renta, tak memiliki tangan, dan keadan lainnya. Tentu tanpa diminta akan saya berikan’’, katanya bagaikan kereta api. Cepat sekali. Bapak tersebut tertunduk. Tak ada kata apapun yang dikeluarkannya. 

‘’Ah, manusia. Mengapa memilih menghinakan diri sendiri di hadapan manusia?’’ tanya hatiku mendengar penjelasan tersebut. Satu kata, memalukan.
Kali ini, keraguan untuk berkata-kata itu hilang. Aku harus berkata-kata, dan berdakwah menjelang senja datang.
“Mohon maaf pak. Apa yang dikatakan oleh ibu ini benar. Rasulullah menyebutkan, bahwa tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah. Bapak sehat, banyak pekerjaan yang bisa bapak lakukan ketimbang meminta-minta.” Sehalus mungkin. Matanya menatapku dengan tajam. Lalu ia berlalu, meninggalkan keramaian yang ditimbulkannya.