"Berceritalah lewat penamu tentang hal-hal sederhana nak! Meski pepatah lain mengatakan, semakin bagus tulisanmu maka akan semakin sulit untuk dipahami. Bagi orang tua ini, apalah bagusnya dari tulisan yang susah dicerna walau bagus dikata? Bukankah tulisan itu jemari. Jemari yang merangkul pena untuk menggores. Iya kan? Itu artinya ia universal, membiarkan semua orang mampu mencerna dengan baik apa yang penulis tuangkan"
Aku tercengang memperhatikan lisan ayah yang terus berceloteh sembari menghirup sesekali kopinya yang masih hangat.
Memang sudah menjadi kebiasaan kami untuk duduk bersama, menghadirkan kepulan asap milik kepala yang menggumpal. Terkadang, aku tidak habis pikir pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Sederhana, namun sarat akan makna.
Ia yang selalu membuatku kuat menjalani hidup. Katanya sekali waktu, teruslah berjuang.
Ia masih terus memandang ke arah jalan yang sepi di ujung sana. Nyiur melambai menemani gesekan ranting pada pohon-pohon karet yang mulai menua. Usia kami menempati gubuk reyot ini sudah mencapai angka 22 tahun. Mungkin, itulah yang membuatnya merasa enggan untuk meninggalkan hutan dengan segala kenangannya.
Baginya, gubuk dan hutan ini adalah nyawa. Dari kereotan dindingnya ia mampu bertahan menghindari sengatan mentari, dan dari hutan ini, ia mampu memperjuangkan hak anaknya untuk berpendidikan melebihi apa yang ia dapatkan.
Aku masih belum bisa angkat suara. Bagiku, cukuplah menatapnya sebagaimana biasa. Sebab kata-kata yang keluar darinya adalah cambuk pada perjalananku ke depan.
Kala menatapnya yang sudah mulai menua, ingatanku kembali terpanggil oleh kenangan tempo dulu. Kisah cintanya dan ibunda, kisahku yang membuatnya menangis, hingga perdebatan kecil menjelang perantauanku. Semuanya jelas, sejelas mataku menangkap kerutan-kerutan di wajahnya yang dahulu tidak ada, sejelas tangannya yang semakin kasar begitu nyata, bahkan rambut putihpun mulai mendatanginya.
Dan yang paling menjadi favoritku adalah janjinya dahulu yang sudah ditunaikannya.
"Ayah janji, sesulit apapun keadaan kita nanti, jika kau benar-benar berniat untuk sekolah, akan ayah sekolahkan meski dengan menghutang", katanya tempo dulu.
Kini, sambil menatap wajahnya yang semakin tua, kukatakan terimakasih dalam bisu.
"Ayah, terimakasih telah menunaikan janjimu. Meski aku tau, ada banyak hal yang kau lakukan meski tanpa kau janjikan. Sehat selalu".
Jogja. 12 Juni 2019
https://pixabay.com/images/search/puasa/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar